Rabu, 02 Desember 2009

IDOLA - Sebuah Cerpen

Siang hari, di Surabaya yang panas (ah, jadi mirip lagu Franky and Jane!), sebenarnya tak terlalu enak untuk latihan menyanyi. Yang paling enak adalah di rumah, sambil nyruput es campur yang dijual di ujung gang.
Sania bergegas memasuki studio kecil di lantai dua. Berto sudah menunggu.
“Ayo, latihan, sudah banyak yang nunggu…!” Ah, Sweet Berto! Sania mencium sekilas pemuda bertubuh subur yang selalu penuh perhatian itu.

Semenjak menjuarai sebuah ajang pemilihan bintang di Jawa Timur enam bulan lalu, hidup Sania tiba-tiba berubah. Dari penyanyi yang mencoba mengais hidup dari pub yang satu ke pub yang lain Sania sepertinya bermetamorfosa menjadi seorang selebritis.
Setahun yang lalu Sania adalah cecurut dalam dunia hiburan. Tidak jarang ia tidak dapat job sama sekali. Dalam situasi seperti itu, satu-satunya pelarian Sania adalah pintu belakang bangunan besar di depan kamar kosnya yang sempit dan supek di daerah Dinoyo. Pintu ke arah Biara SVD. Dengan bantu-bantu para pastor di sana, apa saja, siram bunga, mendangir, membersihkan dapur, membersihkan kamar mandi, atau apa saja yang bisa ia kerjakan. Dengan itu Sania boleh mengganjal perutnya yang lapar.
Lalu, datanglah berita tentang ajang pemilihan bintang. Ia dengar dari Henny, temannya sesama entertainer di pub.
Sania larut dalam ribuan perserta se-Jawa Timur. Bahkan ia dengar, ada juga peserta dari bagian Indonesia Timur, seperti dari Manado, Bali, dan Flores. Sania sedikit gentar. Prestasi terakhirnya adalah juara menyanyi se- SDnya waktu ia kelas IV. Selain itu, ia hanya penyanyi serabutan dari satu café ke café yang lain. Dari satu pub yang lain. Pernah juga ia jadi penyanyi untuk acara ulang tahun anak. Ia dikontrak oleh sebuah rumah makan ayam goreng terkenal. Sania ingat, ia harus mengenakan baju badut yang besarnya minta ampun. Panasnya apalagi! Dan di dalamnya, ia harus tetap bernyanyi. Menghibur anak-anak kecil yang lebih banyak main dan makan daripada mendengarkan lagunya.
Tapi rupanya, dewi fortuna sedang tersenyum padanya, setelah sekian lama memalingkan muka. Sania mendapat banyak dukungan SMS dan kemudian terpilih menjadi juara.
Sontak ia laris bak pisang goreng. Ia diminta menyanyi di banyak tempat. Di mana-mana tepuk tangan gemuruh menyambutnya. Ia tidak lagi punya waktu luang, apalagi sambil kelaparan. Daftar nomor telponnya bertambah panjang, kali ini bukannya ia yang menelpon untuk menanyakan job, tetapi orang-oranglah yang minta ia menyanyi, dan kemudian meninggalkan nomor telfon.
Sania ingat, dengan penuh gembira ia masuk ke pintu belakang Biara Soverdi. Pater Petu sedang di taman, mendangir. Dengan penuh semangat ia menceritakan kemenangannya. Pastor tua itu tertawa-tawa seolah-olah mengejek, padahal Sania tahu, pastor itu merasa sangat senang dan bangga.
“Kau jangan lupa e.. sama gereja…,” begitu kata Pater Petu dengan logat Timurnya yang kental. Sania terus ingat kata-kata itu.

Maksud Pater Petu adalah supaya ia tidak boleh lupa ke gereja. Tapi, Sania mendapati dirinya begitu padat dengan kegiatan show. Ketika ia mendapat honor yang mengejutkan, saking besarnya, setelah menyanyi di Yogyakarta, Sania membeli sebuah tempat lilin perak berukuran besar dari Kota Gede.
Sania meletakkan tempat lilin perak itu di dekat patung Bunda Maria di kapel Biara Soverdi.
“Sungguh, tempat lilin ini tidak bisa menggantikan tempatku di gereja ini. Tapi, perkenankanlah aku sebentar mencari duniaku…” begitu doa Sania di depan Bunda Maria.
Setelah itu pun bila ia ada kesempatan ke luar kota, ia selalu mencari pernik-pernik rohani.

Dan, rupanya, bintang Sania semakin terang. Sebuah perusahaan rekaman dari Jakarta menawarinya untuk rekaman. Sania langsung tenggelam dalam proyek rekaman tersebut. Proses rekaman inilah yang mengenalkan ia pada beberapa pesohor negeri ini. Bertemu dengan Laudya Chintya Bella yang mencoba rekaman. Juga bertemu dengan the raising star Nidji.
Ia bertemu juga dengan Rika Roeslan yang menyumbang satu lagu buat albumnya. Berkat hubungan baik produsernya tentu saja. Tapi ia memang suka lagu-lagu mantan personel The Groove itu.
Sekarang Sania sedang dalam tahap mengambilan suara untuk lagu-lagunya.

Namun, sebenarnya, ada satu obsesi Sania yang terbesar. Itu adalah menyanyi dengan Delon. Pemenang sebuah kontes menyanyi yang diadakan oleh sebuah stasiun TV yang terkenal beberapa tahun yang lalu. Sejak Delon masih jadi peserta yang culun dan imut, Sania sudah suka. Suaranya halus dan bersih. Baginya Delon punya kelebihan karena ia tidak hanya menyanyi, tetapi menyanyi dengan hati. Delon sangat layak jadi pemenang.
Sania ingin sekali dapat kesempatan bernyanyi dengan Delon. Ia sering membayangkan menyanyi bersama Delon. Lagunya “The Prayer”. Waw! Sania sesak nafas sendiri kalau memikirkan khayalannya. Baginya, menyanyi bersama Delon adalah prestasinya yang paling ingin dikejarnya. Ia tidak ingin se-ngetop Agnes Monika, dengan segudang award, apalagi sampai go-international. Whew! Gak lah! Sania cuman kepingin menyanyi untuk dapat uang. Dan kalau boleh mimpi, ia pingin sekali menyanyi dengan si imut Delon.

Rupanya Sania benar-benar sedang lucky berat. Untuk peringatan Natal dan Tahun baru mendatang Panitia Natal Ekumene Surabaya ternyata mengundang Delon! Dan hebatnya lagi, Sania diminta untuk duet bersama Delon!
“Ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan, …..” Sania tergagap-gagap sendiri waktu mendengar berita itu. Matanya terbelalak dan napasnya seperti mau berhenti.
Delon! Delon yang diimpi-impikannya, akan datang dan bernyanyi bersamanya! Ingin rasanya ia menghentikan perputaran dunia ini, hanya supaya ia bisa menikmati sensasi kegembiraannya atas kabar yang baru saja didengarnya!

Sania latihan gila-gilaan. Tidak hanya itu, dengan cerewet ia menentukan baju yang akan dipakainya. Ia tidak mau lagi baju dari sponsor yang biasanya tidak sesuai dengan seleranya. Ia minta dibuatkan baju panjang berwarna broken-white berleher bulat dengan bordir dan manik di bagian pinggulnya. Baju itu dirasanya paling pas untuk dipakai bersanding dengan Delon. Sania memimpikan dirinya seolah-olah Delon adalah pengantin laki-lakinya. Sania pingin tampil cantik untuk pengantin laki-lakinya.

Akhirnya, tibalah malam yang dinantikan itu. Oh, ya, kemarin sore ia sudah latihan dengan Delon. Wah! Pujaannya itu memang benar-benar cool! Sangat rendah hati, sangat kooperatif. Dan tentunya, suaranya sangat bening dan halus. Dan betapa bangganya Sania karena ia bisa mendengarnya dengan kupingnya sendiri!
Malam itu, pohon Natal setinggi tiga meter yang dipajang di sudut panggung terlihat begitu indahnya. Kesempatan Sania akan datang sebentar lagi. Ceritanya, Sania akan muncul dari belakang panggung, sementara Delon dari tengah penonton. Mereka akan bertemu di tengah panggung. Kemudian Delon akan meraih tangannya…
Alunan musik sudah terdengar. Dentingan “Panis Angelicus” dari piano yang dimainkan oleh Lexy, seorang pianis di gereja. Sekaranglah Sania harus masuk…

“HEH!! Bengong aja! Kerja!!! Emang dengan bengong gitu bisa dapet duit! Ayo kerja lagi! Kamu pikir saya mau mbayarin orang bengong!” hamburan sumpah serapah itu keluar dari mulut Chandra, pengawas bar dangdut di sudut Surabaya itu.
Aku segera tersadar dari mimpiku. Mimpi di atas mimpi malah.

Aku memang Sania. Memang penyanyi. Tetapi bukan penyanyi terkenal pemenang kejuaraan. Aku salah seorang penyanyi dangdut di bar dangdut itu. Itu pun harus berebut perhatian dengan puluhan penyanyi bar dangdut yang rata-rata seksi dan molek.
Aku memang penggemar berat Delon. Dan aku memang sering memimpikan menyanyi bersama Delon. Tapi, tentu saja, biar dunia kiamat, bom atom berdetum untuk kedua kalinya, atau WTC terbangun kembali, tidak akan mungkin Delon menyanyi dengan seorang penyanyi serabutan di bar dangdut!
Mataku nanar menatap panggung kayu di depanku. Panggungku yang sebenarnya…

Dan yang benar juga adalah Pater Petu dengan pintu biaranya. Mereka bukan sekedar khayalanku. Pater Petu dengan biaranya yang memberiku sekedar nasi untuk menghangatkan perutku. Walaupun sampai sekarang, belum ada satu butir perak pun kuberikan pada biara itu.


Pekanbaru, 7 Januari 2007
Agnes Bemoe

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar